Selasa, 15 November 2016

Andong 1726 mdpl

Ada yang salah dengan langkah ini, dengan tekad ini. Ada yang nyata dengan motivasi, ada yang benar tentang tujuan ini dan ada yang salah dengan tubuh ini. Sedikit dampak kerasnya cuaca menguji ketahanan yang dimiliki oleh sebuah raga, ketika rasa lelah dan sakit cukup tinggal dalam pikiran dan termusnahkan dengan mudah....

Enggan ada tapi tak mampu bersaing dengan secercah sinar yang menuntun, dan menggerakkan sesuatu dalam diri untuk berada di sampingnya. Mungkin ada yang berharap dari diri ini untuk memastikan lebih bahwa semua ini memang nyata dan bukan sekadar perjuangan kosong lagi, atau secercah keinginan untuk menjadi berarti bagi cahaya itu meski tak sungguh mengerti.
Biarlah dunia berjalan seperti ini ketika indah akhirnya kurasakan, ketika sebuah sayang tak lagi sendiri, ketika khawatir dan peduli mendorongku untuk tak melepasnya.

Jalan setapak sedang kurangkai dalam imajinasiku, mencoba membatasi ketakutan dan keriangan yang begitu besar. Dingin seperti es sudah meneror sepanjang jalan bermotor, melemparku pada perjalanan satu tahun setengah yang lalu, dengan motivasi yang nyata namun hanya sebatas khayal.

Ketika kamu merasakan tanganmu tak lagi menggenggam udara kosong, apalagi yang diperlukan? Jemarinya di sela jemarimu, tatapan matanya tak pernah jauh, dan hadirnya tak pernah lebih membekas dari saat ini. Salahkah jika semua ini akhirnya nyata? Bagaimana jika semua perjuanganku saat ini bukan untuk mendapatkan seseorang yang takkan pernah ada? Namun perjuangan menjelang waktu untuk sebuah cahaya yang hadirnya tak pernah kuanggap hingga akhirnya menjadi sesuatu yang terlalu besar untuk kugenggam.

Nafasku berat, dan ....berisik. tubuhku tak lagi sesehat dan seringan dahulu tapi aku masih disini. Kukira semua tenagaku telah habis hanya untuk berjuang tanpa arah tanpa pasti... tapi apa daya jika sesuatu berhasil memancing semua tenaga yang tersembunyi, seolah alam bahwa sadarku tau untuk tak membiarkanku membuang tenaga sia2, ia menyimpan sebagian besar, menunggu seseorang untuk menyalakannya.

Beristirahat ketika lelah... merasakan udara dingin yang merambat melalui hidung hingga ke dada, suatu siklus kehidupan yang tak mungkin dihindari dan terasa agak menyakitkan jika tanpa persiapan pada saat itu. Sunyinya malam itu tak lagi pasti karena bising deru nafasku, memalukan tapi aku tak berhenti sehingga cukup untuk pembelaan.  Siapa sangka alasan untuk tak berhenti ada di hadapanku, aku cukup memandangnya dari belakang, mengetahui ia terus bergerak dan aku akan tetap memaksakan langkahku, ketika betis terasa panas dan dada begitu dingin.

Masih dengan hamparan bintang yang akan selalu kukagumi, selalu...

Ini bukan merbabu, bukan pula aku yang lama...
Ini Andong, dan diriku yang mencoba ada di setiap waktu yang kamu jalani
Ini Andong, dan dengan doa yang baru
Ini Andong dan dari 1726 Mdpl serta cahaya sunrise, aku berteriak sunyi bahwa aku ada disini bersamamu...

Kelas MSDM 303
Rabu 16 nov 2016

Senin, 07 November 2016

THE WEEK (part 2) - LESSON

Ada 3 kali kesempatan dan satu telah gugur, bukan tanpa alasan jika 2 kesempatan terakhir menjadi tumpuan tekad dan harapan. Ada pikiran jernih untuk mengurangi beban hari H ke dua dengan menambah jam istirahat untuk memfokuskan diri. Sedikit kritik untuk pihak manajemen, atau lebih tepat disebut kecaman jika keluar dari mulut ini, namun terlalu luang rasanya untuk mengurus hal-hal semacam itu. Agak sedih jika dirasa ketika aku membutuhkan semua dukungan yang ada, dukungan itu justru membalik semua yang ada merasa mereka lah yang perlu didukung, namun begitulah kita, mengungkit kebaikan kita dan keburukan orang.

Sebuah persiapan yang tidak biasanya diupayakan, kami sendiri, tidak ada yang menopang dan memanjakan seperti biasa. Suatu berkah dan keberuntungan ketika seorang menawarkan bantuan utama yang memang kami butuhkan, sebuah tempat untuk bermalam dengan harapan dapat mengurangi beban lelah dan menyatukan focus lebih dalam.

Esok ini merupakan keharusan, tidak ada lagi main-main, semua harus dimenangkan hari ini atau kami, aku hancur dengan reputasi dan mental kami tidak akan bertahan. Tidak salah jika aku berpikir demikian, biar bagaimana pun aku juga memerlukan sedikit motivasi yang bisa memberiku titik terang apa yang harus kulakukan untuk ke depan dan sampai saat ini belum ada yang benar-benar mampu membuatku percaya bahwa aku mampu dan tim ini layak untuk mendapat tempat di dalam persaingan yang nyata ini.

Tempat seadanya bukan masalah bagiku, reputasiku sangat bagus untuk dapat memejamkan mata dan menghilang dari alam nyata dimanapun, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Namun malam itu berbeda, aneh rasanya ketika matamu begitu berat dan telah terpejam, namun alam bawah sadarmu tak juga mengambil alih. Setiap detik yang kulalui membuatku merasa semakin bingung dan takut, aku mengerti bahwa aku membutuhkan setiap detik istirahat dan setiap detik lelap untuk tenagaku esok hari. Namun itu semua tak kunjung menghampiri. Fajar kusongsong dengan mata berat dan kantuk yang tak terpuaskan. Khawatir memenuhi benakku tapi aku tak bisa apa-apa lagi.

Sarapan pagi itu adalah salah satu berkah lainnya, sedekah yang sangat kusyukuri dan kuharap begitu juga bagi yang lain.

Aku terduduk, hanya bisa bersyukur pada orang-orang yang mampu menjadi penopang tim ini, mereka berjuang mati-matian, meninggalkanku yang tak berdaya, gagal memberikan sedikit kontribusi pada hari yang berat ini. Seharusnya itu menjadi cobaan mudah, namun tekanan dalam diri, ketidaksiapanku membuat hari itu begitu berat. Lelah….. lelah untuk melihat diriku gagal lagi, dan nyaris timku gagal juga.

Ada suatu titik dimana semua ini tertulis terlalu harafiah, entah keputusasaan atau menunjukkan ketidakmampuanku lagi dalam melukis dalam kata-kata.

Singkatnya, karena ini sudah berlalu begitu lama dan lelah sudah untuk menjelaskan terlalu detail semua yang saat itu ingin kutulis, kami gagal.


Perjuangan terakhir menjadi perjuangan paling layak yang bisa kami persembahkan selama turnamen ini, dengan sedikit bantuan doping, sebenarnya sangat membantuku, aku mampu untuk menunjukkan sebagian diriku yang dulu. Kami tidak layak tersingkir, kami berada di grup neraka, berjuang habis-habisan hanya tertera di acara ketiga, namun mental kami setidaknya tertempa. Beda cerita jika kami berada di grup sebelah, kami takkan pernah benar-benar melihat betapa kami itu jauh dari sempurna, hanya ada persaingan gengsi. 

Senin, 24 Oktober 2016

Hey Sunshine

Would you keep chasing when you know you're running for nothing?
Would you keep expecting when you know you don't even match the type?
Would you keep watching the stars while the one you waiting for never really show up?

But
Would you stop trying when you know no one see it?
And
Would you stay in the dark when you know you've got the new sunshine around?

Hey sunshine, would you drag me to your warmth and let me live again?
Or is it just a short visit to push me harder to stay strong?

Somehow,
May be,
I need to be saved
I am waiting for a saviour

Adeninova atmojo

Minggu, 23 Oktober 2016

THE WEEK (part 1) - First Game

Siapa yang sesungguhnya bertanggungjawab atas apa yang akan dirasa? Semua nya sudah mengerti bahwa penyesalah datang di akhir, dan mungkin kini sebagian orang menyadari bahwa penyesalan meneror sejak awal, rasa was-was dan gugup akan sesuatu yang tidak sempurna.

  • Then how to tell you about it? May be this week is the most tiring week as I remember for this year, but the feeling piled up, leave me a pain in my back every morning when I awake for these last few days.


“Aku nggak tau kenapa, tapi aku nggak bisa maksimal”
“Ya itu yang harus kamu cari tau, apa yang bisa dorong kamu. Kamu bisa bagus banget, nggak ada yang bisa ngehentiin kamu, kaya even kemarin, tapi kamu juga kalo jelek, jelek banget udah…”

Siapa itu? Siapa yang mengeluh, siapa yang menasehati, siapa yang merasa, siapa yang mencari jawaban, siapa yang kehilangan? Jangankan berpikir, terkadang semua fisik terasa telah terupayakan. Namun kenyataannya belum.

Hari Senin, sebuah titik baru, ujian pertama yang ……. Ternyata gagal. Pikirku melihat Captain Tsubasa, dia mengerti apa yang diinginkannya, yang diinginkan timnya, dan visinya jelas luar biasa, skillnya tidak dapat dipungkiri dan motivasinya jelas serta mampu menjadi motivasi bagi seluruh tim. Begitu layak, begitu menyenangkan, begitu pas. Aku agaknya merindukan sosok itu di dalam timku, dan bukan seseorang dengan skill pas-pasan, penampilan yang tidak stabil dan cenderung buruk, tidak mampu melihat dan menegur di dalam lapangan, dan bahkan dirinya lebih cenderung butuh ditegur. Macam apa itu, bukan yang dibutuhkan tim saat ini.

Bahkan tidak bisa dipungkiri keraguan dan keengganan melingkupi teman setaranya, yang memiliki skill lebih unggul, pengalaman terbanyak namun tak menjabat sebagai seorang pemimpin, sedangkan ia, dipasrahi sebuah tanggung jawab yang bahkan tak pernah terpikir untuk diembannya.

Aku sendiri pun tak mampu memahami bagaimana ini terjadi. Namun dari caraku memandang diriku sendiri, semua ini takkan mampu membuatku lebih baik, lebih dipercaya, lebih dihormati. Siapa aku? Aku yang harus membentuknya, biar mau apa dikata oleh mereka setaraku, namun aku memiliki orang-orang yang akan mampu melihatku sebagai diriku yang baru, sebagai citra yang diberikan ketika mereka mengenalku, yang harus kulakukan hanya memastikan bahwa aku mampu dipandang seperti itu. Bukan hal buruk, justru sebuah tantangan untuk menjadi lebih  baik. Permasalahannya bukan ada di aku yang tidak mau menerima atau pun tidak mau berkembang, karena aku mau. Namun permasalahannya, apakah tim ini mampu menunggu perkembanganku, karena dari sudutku, aku melihat bahwa tim ini membutuhkan lebih dari seorang yang sedang belajar memimpin, mereka membutuhkan pemimpin yang sudah matang, yang tau kemana tim ini harus dibawa.

Terbilang buruk untuk umurku dan pengalamanku selama ini, tidak seperti yang timku, pelatihku dan terlebih diriku harapkan. Aku bisa menerima hari Senin ini dengan pertimbangan bahwa aku berusaha lepas dari ketergantunganku terhadap cairan penguat itu, bukan permainan buruk menurutku melihat aku berusaha lepas, tapi semua itu berbalik menjadi salah begitu hasil yang didapat begitu mengecewakan. Mungkin akan berbeda jika cairan itu kuminum dan aku bisa lebih maksimal. Nilai ku E untuk membawa sebuah tim besar ke dalam kesuksesan, dan  nilai A untuk membawa mereka ke dalam kejatuhan.

Apa yang akan kau lakukan ketika ketika kamu sungguh berupaya dan focus, namun justru menyeretmu terlalu jauh dalam lamunan dan membuyarkan semua upayamu. Tak focus tak maksimal tak berhasil. Sementara, semua yang kubutuhkan ada disitu, motivasi psikis, ada dan begitu dekat, motivasi fisik disediakan dengan memadai, namun aku lupa dengan motivasi diriku sendiri, yang tak pernah benar-benar kutemui.


Aku pulang dengan rasa kecewa tentu, beban semakin berat, dan senyum di wajah. Senyum yang aku sendiri merasa tak pantas untuk kusunggingkan, namun tangis dan sesal lebih layak kusimpan dan kuutarakan ketika tak seorang pun ada di sekitar. Ketika kamu menjadi pemimpin, tugasmu adalah mengangkat moral dan semangat mereka, keberhasilanmu dapat mengangkat mereka, namun rasa jatuhmu yang ikut mereka rasakan akan lebih sulit diobati pada akhirnya, jadi jangan biarkan mereka melihatnya.

Rabu, 05 Oktober 2016

Malam Ceria

Seperti mengalihkan semua kekuatan alam, ketika kemarahan datang terkadang tak  ada objek lain yang lebih menarik selain dirimu. Namun apakah arti kemarahan itu sendiri ketika dituruti hanya mengundang sesal di akhir.

Dikelilingi oleh orang-orang asing, hanya dua orang diantaranya benar-benar berarti dan mengerti. Satu orang berada di dalam ruangan, menikmati profesinya dalam kelelahan yang dia sesalkan di antara waktu luang yang ada untuk beristirahat. Kantung matanya tak pernah pudar, hanya sesekali tampak lebih tipis karena waktu yang dengan baik ia gunakan untuk istirahat. Waktu kami saling mengenal tak lama, namun aku tau bahwa aku rela menjadi membantunya apapun agar kami tetap berteman, dan sebenar agar membuat dirinya tau bahwa ia berharga bagiku.

Seorang lagi di duduk di depanku, terpaku pada gadgetnya, smartphone dan laptop yang ia andalkan untuk bertahan hidup. Hidupnya tak mudah jelas, terutama dibandingkan dengan hidupku, dan aku jelas bukan orang yang dia butuhkan, hanya teman bermain saja. Namun bagiku dia seorang guru, seorang panutan yang sangat kuhormati karena pengalaman hidupnya. Dia bukan orang yang sepenuhnya benar, tapi bukankah semua orang begitu? Orang yang juga selalu kuandalkan ketika merana dan bahagia datang, tidak harus selalu bercerita namun ada di saat-saat seperti itu sudah cukup.

Malam semakin larut dan tempat ini semakin ramai. Seorang bule yang duduk di ujung depanku tak lagi sendiri. Sempat kupikir ia hanya berkunjung untuk melihat salah satu tempat recommended dan berlalu seperti turis pada umumnya. Tak demikian ternyata. Seorang temannya datang setelah gelas kopinya habis, mengakhiri penantiannya. Sederet cerita terlontar dengan antusias setelah temannya mengucapkan penyesalannya karena keterlambatan yang tak juga ia harapkan. Bahasa yang masih bisa kutangkap sedikit-sedikit dalam keterbatasan ini. Senang rasanya memiliki teman saat berada di tempat asing.

Tiga orang di sebelah kananku belum lama datang, tempat yang mereka duduki tak pernah kosong dalam waktu yang lama, dan bahkan saat ini hanya ada satu meja kosong di dalam ruangan no smoking. Ketiganya asyik mengobrol disela asap tembakau berfilter khas anak muda. Hmm tapi sebungkus sampurna kretek tampak di atas meja, tak semuanya ternyata. Sederet meja panjang ditengah tak hanya diisi mereka bertiga, begitu nyaman sampai aku tak menyadarinya.

Kulihat seorang adik kelasku di dalam ruangan no smoking, aku tak bisa mengingat namanya, namun wajahnya jelas familiar. Sudah terlalu lama untuk jaman SMP bagiku mengingat siapa namanya, toh dia hanya seorang adik kelas, salah satu orang berada yang sangat kuingat gayanya yang glamor saat itu.

Tak kutau apa yang ada di belakangku, hanya obrolan yang semakin riuh karena diserang rintik hujan, salah satu bunyi yang begitu menentramkan. Yang kutau meja di belakangku baru saja terisi. Berbeda dengan mejaku sendiri, penghuninya telah berganti lagi kecuali diriku. Dua orang yang belakangan menjadi teman main dan menugasku. Lucu rasanya bisa dekat dengan mereka seperti ini, di ajak berkumpul dengan orang-orang yang kupuja dan kukagumi. Dan juga sebagai perenunganku untuk bersikap lebih baik setelah pengalaman-pengalaman kehilangan teman.

Aku tau kamu entah dimana, mungkin di peraduanmu, sedang mengalami pertentangan. Dan aku disini merasa tak berguna, tak berguna bagi niat dan tekadku, tak berguna untuk berusaha memahamimu. Musuhku masih tetap dirimu, tekadmu dan prioritasmu yang berganti hanya tekadku untuk tak lagi berusaha memahamimu yang tampaknya tak berguna juga. Mau bertaruh bagaimana pun juga, aku takkan bisa merubah tekadmu. Kewajiban ini bertentangan dengan tanggung jawabmu saat ini, dan mau bagaimanapun kamu menunjukkan kamu berusaha memprioritaskan kewajibanmu, aku tak  akan mempercayaimu. Bahkan ketika kamu mampu pun kamu tak menunjukkannya, kamu lebih memilih terseret dalam ajakan orang-orang, tempat yang nyaman bagimu.

Ledakan amarahku bercampur. Padamu? Padaku? Pada semuanya. Bahkan pengendara motor pun jadi sasaranku. Dan aku kelelahan belakangan ini. Kelelahan yang tidak kupahami, atau mungkin kupahami namun tak bisa kukendalikan. Aku harus berlari kepada siapa, situasi yang sama yang dulu sempat kukendalikan kini muncul lagi. Tak berharga sungguh.

Ku bernafas sekali lagi. Kelelahanku kuserahkan pada ahlinya yang mungkin bisa membantu. Lima macam alternative dialamatkan langsung, kuharap bisa berfungsi bagiku. Doaku selalu tentangmu, begitu juga pikiranku, mimpiku, hanya kata-kataku yang sekarang kukendalikan, tak ingin orang lain tau aku rapuh karenamu.


Blanco Coffee and Book

Senin, 03 Oktober 2016

Malam Ini

Kuteriakkan namaku menembus sunyinya malam disela deru angin laju motor ini. Lantang jelas dan agak menyesakkan, kebiasaan yang entah buruk atau baik namun harus dilakukan. Siapa yang akan membantuku menghentikan semua ironi dan karma yang tak pernah berhenti berlari dalam benak ini jika bukan diri ini? Setidaknya lantangnya suaraku mampu meredam (sementara) suara-suara yang saling berteriak di dalam kepala. Aku lelah, kamu lelah, karma terus berputar bagai bumi yang orang global bilang bulat dan terus berputar. Ledakkan kepalaku jika bisa menghentikan semua ini.
Langit yang cerah setelah berhari-hari berawan, mendung, hujan datang tanpa ditebak. Berlari entah mau kemana lagi, kembali ke kenyataan? Namun bukankah semua akhirnya harus terbangun dari mimpi dan kembali meminang keputusan sulit? Malang bagi mereka yang selalu berhadapan dengan keputusan sulit, malang bagi mereka yang terjebak pada masa memilih, malang bagi mereka yang telah memilih namun tak mampu beranjak melakukannya. Bagi yang mampu bergerak maju pun bukan berarti kemalangan terhenti, melainkan berhasil menjajaki hidup di tingkat yang lebih tinggi dan kompleks.
Kosong, langit malam ini kosong. Hanya selimut hitam tanpa awan yang ada. Namun itu ada di depanku, sementara yang terindah ada ketika kepala kutolehkan ke belakang. Hamparan sinar-sinar kecil yang jauh dan takkan pernah terjangkau tersebar indah, mengawalku kembali ke peraduan, memberikan dukungan moral dan sepercik rasa bahagia melihatnya lagi setelah berhari-hari bahkan mungkin berminggu-minggu yang kelam. Kumatikan lampu motor, kumaksimalkan sinar-sinar redup nan indah itu agar bisa menunjukkan cahayanya meski sebuah crane berdiri kokoh dan terang memotong sebagian langit. Sudah sepi, sunyi, dan aku tak boleh berhenti meski hanya sejenak. Akan ada lagi malam-malam seperti ini, ketika langit cerah dan bintang-bintang berserakan tak terhitung. Tanggung jawab masih menunggu meski kuabaikan, harus tetap dihadapi seadanya, sesiapnya. Tanggung jawab yang kukorbankan untuk satu malam durhaka lainnya. Karma lainnya mungkin masih menunggu, dan bertindak seperti biasa takkan membantu. Ada tekad yang yang berusaha kutanamkan dengan ragu, namun mungkin bisa berhasil sehingga cukup aku yang menikmati karma ini.
Dunia apakah ini? Ketika berbuat salah begitu menggoda, ketika angan ini terus bermain.
 Andai…. Andai malam ini aku kembali di puncak merbabu….

Kamis, 22 September 2016

THE GUILT


Seseorang tidak pernah mengenal kebenaran mutlak, yang dia tau hanyalah fakta bahwa benar adalah segala yang diterima oleh sekitarnya, yang membuat orang lain memuji dirinya, yang membuat dirinya setara dengan orang-orang sekitar serta dirasa layak untuk tidak dipergunjingkan. Bersyukurlah bagi mereka yang berhasil hidup di dalamnya, tak pernah muncul rasa berontak atau ketidaknyamanan dalam “kebenaran” tersebut. “Kebenaran” ini adalah benar, seperti namanya, dan orang-orang yang memaksa, membentuk pribadi seseorang sesuai “kebenaran” ini juga benar. Mereka memiliki sebuah pedoman, pedoman untuk mendamaikan hidup mereka dan berharap hidup anak cucu pula.

“I’m not in mood to fix any trouble that I made, I’m not in mood to behave either. But, I’m and I do in mood to make any trouble”

Darah tinggi bukan penyakitmu, namun jika rasa pusing memuakkan itu datang maka ada yang berlebihan dalam hidupmu, entah makananmu, pikiranmu atau bahkan perasaanmu, jika ada. Melihatmu seperti ini, melambungkanku ke beberapa waktu lalu, kala cakap-cakap ringan denganmu tak seringan yang kukira.
“Tigus, Pernahkah kamu membayangkan menjadi orang tua, mendidik anakmu dengan sedemikian rupa, disiplin, tertib, tahu diri, rendah hati, mandiri, berpendirian kuat, patuh dan segala hal yang baik? Tidak sempurna memang, tapi tepat dan sistematis, membuat sebagian besar orang tua di sekitarmu heran bagaimana kamu menerapkannya, pendidikan dari usia sedemikian dini pada anakmu dan anakmu bisa patuh padamu. Pujian datang bagimu sebagai orang tua dan bagi anakmu. Berbagai harapan menghampiri dari para pemuji, berharap anakmu akan berhasil dan mereka menantikan kejutan apa yang akan anakmu lakukan di masa mendatang. Masa-masa sulitmu dalam mendidik anak seakan terbayar mendengar pujian dan harapan mereka. Namun masalah sesungguhnya ada di anakmu. Ketika ia beranjak dewasa, perangainya menjadi pemberontak, sulit diatur, jangankan patuh, mau mendengarpun sudah baik. Anakmu berubah menjadi seseorang yang tak kamu kenal, seolah ada dinding tebal nan tinggi yang ia bangun entah untuk apa, melindungi dirinya? Tapi untuk apa? Menutupi sesuatu? Tapi mengapa?”
Aku hanya mampu mendengarkannya berbicara, sesekali kuposisikan diriku sebagai orang tua meski darah mudaku tak bisa menghilangkan derasnya pemikiran anak muda.
“Gus, Terkadang aku bertanya-tanya,membayangkan sendiri jika aku memiliki anak semacam itu. System apa yang harus diperbaiki. Coba piker Gus, apalagi yang harus kamu perbaiki dalam systemmu dalam mendidik anak?”
Aku mengerti sedari awal bahwa ia mencoba membagikan kebingungannya. Sosok yang ia suruh aku bayangkan itu adalah orang tuanya, dan si anak adalah dirinya sendiri. Seorang anak yang sedang dalam kebingungan.
“Aku ni kurang apa, kasih sayang ada, materi tidak melimpah ruah namun cukup, semua hidupku terjamin, pendidikan masa kecilku jelas, namun diriku yang sekarang tidak sesuai hasilnya dengan system yang telah tertanam bagiku. Kusakiti hati orang tuaku berkali-kali, aku tak mengerti mengapa ada keengganan begitu besar jika mereka masuk dalam hidupku, hidup yang kuakui sangat kacau. Mereka tak pernah berhenti mengingatkan, menyelamatkanku dari masa tua penuh derita, namun benarkah aku ingin hidup hingga tua. Kubangun dinding tebal dan tinggi, tak ingin mereka tau siapa aku dan aku pun tak mengerti alasannya dengan yakin. Sebagian keyakinanku bilang karena tidak seharusnya aku bersikap demikian, ini semua tidak sesuai dengan semua ajaran yang telah ditanamkan sejak kecil padaku. Sebagian lagi mengatakan bahwa system hanya berusaha membentukku, memberikanku panduan, namun tak pernah benar-benar bermanfaat apabila aku memiliki kebenaran yang ingin kubentuk sendiri”
Kukatakan padanya “Aku begitu heran mengapa kamu mampu mengeraskan hatimu dan bersikap acuh pada fondasi hidupmu?” pertanyaan itu jujur kulontarkan, terlebih aku tak benar-benar bisa menemukan respons yang tepat untuk luapan pikirannya.
“Gus,” katanya diiringi tawa hambar “Kau piker aku pun tak pernah merenungkannya?”

Love changes me, any kind of love
Family will be number one although there is not enough space in my list to write it down

Jumat 23 September 2016

My room, 2:07 AM