Kamis, 15 September 2016

CLAY

Tanah liat. Begitu kental, sulit ditembus namun lingkungan yang membentuknya, memberikan gambaran tentang dunia saat ini, memberinya proses untuk mengetahui apa yang diinginkan dunia ataupun dirinya sendiri. Kemudian seorang pengrajin datang, mengambil dirinya, membentuknya dalam rupa yang sedemikian agar tampak indah bagi dunia namun tak pernah benar-benar mengubah struktur asli yang telah tercampur padanya. Begitu liat, ramah pada air di sisi luar, namun sulit untuk benar-benar mencampurkan air itu ke dalamnya, liat. Perlahan tangan-tangan terampil dengan penuh kesabaran menyentuhnya lembut, tekanan sedikit di ujung sana dan sini, rabaan halus untuk memastikan tak ada bentuk yang luput. Sangat mudah untuk kembali menghancurkannya, masih sangat mungkin membentuknya menjadi sesuatu yang lain, terlampau aman untuk merasakan kejanggalan karena semua masih dalam proses meski tak dipungkiri ada ketakutan bagaimana ia akan diterima di dunia sebenarnya dalam wujud barunya yang masih dalam proses dan belum matang.

Indah. Satu kata yang mudah untuk menggambarkanmu meski proses terakhir yang paling menyakitkan belum terlewati. Namun tak ada yang melarang bagaimana orang-orang mengimpikanmu hadir di dunia, menjadi bagian dari dunia.

Tungku pembakaran telah panas, siap memberikan proses terakhir. Menyakitkan mungkin, namun deritanya tersamar dengan baik oleh berbagai pikiran dan doktrin-doktrin yang masih berusaha menghampirimu, menunggu untuk diseleksi dan akhirnya ikut terbakar menyatu denganmu. Panas itu hanya proses panjang yang menunggumu siap untuk berhasil. Secara nyata tentunya sangat menyakitkan, mengetahui bahwa dunia menghampirimu dengan kekejamannya sendiri hanya untuk melihatmu mampu melewatkannya dan menerima ketakutan dan kehampaan lebih daripada sebelumnya.

Berjam-jam, tak hanya dunia yang gelisah menantikanmu, bahkan pengrajinmu pun tak ingin gagal. Pengrajin yang berpikir bahwa dialah pembentukmu sejati, berpikir mengambilmu mentah-mentah dari alam dan bangga karena dapat membawamu pada dunia. Namun benarkah itu? Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun terlibat dalam kehadiran, kematanganmu, maka bangga benar ada ketika kamu keluar dari tungku pembakaran. Keras, tak lagi liat dan mudah dibentuk, namun siap untuk dihadapkan pada dunia.

Dan dunia mengagumimu, memandangmu pada keindahan serta ketrampilan yang diselipkan pengrajin padamu. Kamu menjadi bagian dari dunia, berguna secara nyata, menghadirkan kebahagiaan dan kesenangan tersendiri dalam kekakuanmu yang entah bagaimana kamu, jauh di dalam dirimu sana berpijak dan berpikir.

Hingga suatu saat, ketika kamu berdiri megah menghiasi suatu ruangan, atau berguna secara sederhana dalam kehidupan insan lain, hidupmu hancur karena ulah entah kesengajaan maupun tidak. Tatanan, kekakuanmu yang telah tercampur dan menjadi bagian dari dunia tercerai berai menjadi beberapa dan mungkin lebih bagian-bagian. Kamu jatuh. Kamu bukan lagi tanah liat murni yang ketika jatuh takkan mudah tercerai berai, tidak lagi di tangan pengrajin yang ketika terjadi kesalahan masih dapat dibentuk ulang, kamu telah menjadi sesuatu yang ketika jatuh akan membuatmu tercerai berai, tubuhmu terpisah-pisah. Perlu usaha untuk mengembalikanmu utuh, namun benarkah kamu utuh kembali? Perekat mampu mengembalikan bentukmu, namun tak semua kembali menjadi satu. Serpihan-serpihan kecil yang tak mungkin direkatkan kembali akan terbuang sia-sia, sari-sari tubuhmu akan cacat, dan benarkah luka itu sepenuhnya hilang oleh perekat? Kamu tetap kehilangan, entah sebagian besar atau pun kecil. Malang lagi ketika dunia merasa tak lagi memerlukanmu dan kamu tersapu menjadi satu dari banyak bagian untuk dilempar pada tempat sampah, tempat semua hal yang tak lagi berguna berakhir.

Aku menemukanmu ketika kamu berada di tangan pengrajin, ketika bentukmu, struktur liatmu masih berusaha kupahami. Aku jatuh cinta padamu dan kamu mengetahuinya. Namun aku tak siap dengan diriku, fakta bahwa aku bisa mencintaimu, fakta bahwa aku perlu berhadapan dengan kamu, orang yang telah bermanis pahit dengan dunia meski umurmu tak menggambarkannya. Kulepas keyakinanku dan berjuang, berdebat, mencari lagi siapa diriku, apakah aku ini, mengapa aku, mengapa sekarang. Kamu ada bersamaku ketika aku dalam pergulatan, ketika kamu dalam pembentukan, dan kemudian kamu menghilang, atau mungkin aku.

Masih kupikir kamu hanya persinggahan yang mengganggu keyakinanku hingga kita kembali bertemu. Aku dengan keputusasaan menerima siapa diriku yang mencintaimu, dan kamu disana dengan bentuk barumu yang indah. Kukatakan lagi siapa aku, dan apa kamu bagi diriku, namun kamu tak lagi sama, dengan kamu yang baru, yang telah begitu sempurna menghadapi dunia dan aku dengan sisa-sisa keputusasaan yang ada ditambah dengan kemantapan keputusan dalam diriku. Jungkir balik konyol karena cinta kujalani, konyol jelas namun sungguh terasa.  Dan sekali lagi kamu tetap kamu yang baru, tak ada lagi yang mampu membentukmu kembali atau pun memberikanmu doktrin-doktrin meski hanya kamu yang tau mana yang ingin kamu terima.

Aku tak pernah mengharapkanmu jatuh, aku berdoa untukmu. Kepahitanmu sudah cukup banyak dan memenuhi kenangan-kenanganmu, aku hanya ingin ada lebih banyak kebahagiaan pada dirimu, lebih dari yang kamu miliki saat ini. Aku tahu aku takkan jadi bagian dari kebahagiaan-kebahagiaanmu, bahkan mungkin aku akan meninggalkan bekas luka padamu, namun aku akan berusaha untuk membuatmu tersenyum dan kuat, memahamimu dari jauh, menyadari betapa kamu mengubah hidupku dengan indah.

Jika ada waktu, coba ingat aku sesekali….

Jumat, 16 September 2016

2:10 AM Platinum Internet Cafe

Senin, 12 September 2016

DIE IS EASY

setiap detik begitu berarti, begitu kata orang, entah apa katamu, namun terkadang itu benar bagiku. siapa atau mengapa benar dan siapa atau mengapa benar merupakan pertanyaan mudah, namun pertanyaan yang sesungguhnya, apakah siap mendengar jawabannya? 
"hai selamat pagi," mungkin ini tak lagi pagi namun sapaan itu lebih mudah dilontarkan dibanding dengan mencari kata lain untuk bisa mendengar suaramu ketika memberi jawaban meski tak selalu seperti yang diharapkan. tiga kata sederhana yang entah bagaimana lebih siap bagiku mendengar responnya dan mungkin menjadi alasan mengapa kamu akan menjawabku, sederhana dan tak perlu berpikir. 

langkahku tak berhenti, masih terantuk-antuk kenyataan namun semakin mudah berjalan di atasnya. setelah sapaan singkat, siapa mengerti bagaimana untuk melanjutkan, siapa? kuhitung satu persatu anak tangga didepanku, dan sebelum selesai hingga di tingkat paling atas kuputuskan untuk mulai menaikinya. anak tangga pertama, bosan. anak tangga kedua, manja. anak tangga ketiga, dewasa. lelah, pejuang, mandiri, keras kepala, bingung, menyerah, enggan, ragu-ragu, dan kuterhenti. ada banyak yang ingin kuucap namun aku tak ingin mengakhiri anak-anak tangga ini dengan kata tanya.

sebatang coklat kuletakkan di atas jok motormu, berharap kamu cukup mengerti siapa yang meletakkannya, sekaligus teringat bahwa kamu terlalu obyektif dalam menghadapi segala hal, tak ambil resiko dengan harapan berlebih yang sering ditampakkan banyak orang. mudah saja mencuri motormu, membawanya berkeliling sambil membayangkan perjalanan-perjalanan yang telah kita lalui, bangkitkan lagi semuanya dan berharap akan tercipta lagi dalam batas-batas yang lebih luas. 

kupijaki anak tangga terakhir, sebaris memori itu hanya sebagai alibi keengganan untuk membahas sifatmu lebih jauh. setelah kurenungkan, aku mengerti dirimu sebaik aku tak mengerti dirimu. butuh lebih dari dirimu untuk mempelajarimu, dan itu kudapatkan dari orang lain, dengan pola pikir yang sebagian besar begitu menggambarkanmu. apalagi yang mampu kugambarkan di wajahku ketika mengingatmu selain tertawa. bodoh, sia-sia, lelah, mati rasa, dan yang begitu kuat dramanya adalah sakit. tawa lain terlontar, mengingat diriku pernah berusaha mundur dan gagal hingga akhirnya aku hanya berjalan di tempat. 

aku tak mengerti merah putih sebaik dirimu, aku tak mengerti sakit sebaik dirimu, aku tak mengerti pengorbanan, patah hati, cinta, keluarga sebaik dirimu sama seperti aku gagal memahamimu. pembelaan selalu muncul, kelelahan pernah ada, menyerah? tak pernah sebaik ini aku menyerah hingga aku bertahan, 

lagi aku tertawa dalam diam. orang sastra bilang ini adalah ironi ketika tertawa muncul saat kesedihan yang dirasa. namun semua ini lebih mudah disikapi dengan tawa. ironi telah berlalu sangat lama. 

just keep close... i don't live this world easily, and everybody knows, mostly those who dies earlier. and may be mostly you know it...

13 sept 2016
midnight, 1;41 am

Sabtu, 27 Agustus 2016

THE BATTERY IS LOW

lucu bagaimana ada banyak keinginan yang muncul dan tercapai namun terkadang situasi memberimu pilihan untuk menjadi bijak di tengah kenikmatan semata tersebut.

percakapan sederhana tanpa tatap muka, tanpa suara, hanya sebatas bahasa non verbal yang dituangkan melalui kata-kata untuk kamu yang jauh disana. gagal berhenti, dan tenggelam dalam euforia ringan yang ujungnya dapat merusak. masih tetap terjaga, bertanya-tanya mengapa sembari membuang pertanyaan itu untuk memaksa diri menikmati semua ini yang kemungkinan hanya kebahagiaan semu.

the music goes wild... i never feel that kind of beat before. my body is moving, dancing just a little as the music pushes me to enjoy it. first time in my life to enter this place, to see what kind of world the night has
setelah dihujam berbagai memori lalu, dan dipaksa diam mendengar debat kusir, percakapan sederhana menjadi semacam pelipur. bagaimana mungkin dorongan-dorongan keputusasaan yang berulang kali dilawan logika yang tanpa daya hilang dengan mudah? logika tak begitu kuat dalam raga ini, berulang kali jatuh melawan perasaan yang meski telah dihukum dengan fakta namun tetap bersikeras bertahan, dan justru perlahan membangun sebuah benteng, benteng yang merupakan bukti bahwa logika pernah benar.
i close my eyes, feeling the beat and the song. it would be easier to enjoy, to let all go, to let my mind be wild if this happened two weeks ago... be wild be the desperate of the life i had
percakapan ringan yang kuharap dapat berarti lebih bagimu, dapat menjadi sarana mu untuk bercerita namun tak semudah itu tampaknya. hanya kesalahan fatal, persiapan buruk yang tak seperti biasanya membawa pada keputusan bijak secara perspektif subyektif dari diri sendiri. bukan, bukan keputusan bijakku murni, percakapan ini melibatkan rasa lain yang mempengaruhiku untuk bijak.
i would see more persons, i would enjoy to see people dancing, i would let me be wild so the suffer would go.... but i am in a good mood, i am in a very good condition and i have morale support
hampir pukul dua pagi. telepon pintarku melemparkan nyala di layar bertuliskan merknya sebagai tanda lelahnya. aku bisa tinggal, menikmat semuanya lebih lagi, atau aku bisa pulang, cukup dengan kebahagiaan yang ada tanpa merasa rugi dan mungkin melanjutkan percakapan sederhana tersebut dengan dukungan fasilitas yang lebih?

be aware of what you don't see... i couldn't see your heart

28 agustus 2016
2;48 AM
 
 
 
 

Kamis, 25 Agustus 2016

DUH DEK

jangan marah lah, aku tidak bermaksud menyinggungmu, hanya melanjutkan apa yang menjadi percakapan yang ku mulai dalam beberapa jam yang lalu. jawabanmu begitu menggoda untuk ku olok, untuk dibuat menjadi percakapan ringan. namun sepertinya kepalamu sedang penuh hal lain, dan lelah dengan topik yang kujejalkan sejak sehari yang lalu. 
sungguh aku tak mengira kamu akan melontarkan kata-kata itu yang muncul di benakku dengan nada ketus dan lelah, terlepas beberapa jam sebelumnya ada percakapan ringan dan postingan akun media sosialmu yang menunjukkan bahwa kamu sedang bersantai, sangat bertolak belakang dengan jawabanmu barusan. kamu pusing untuk sesuatu yang mungkin kamu lewatkan sebelumnya hingga kamu harus mencarinya saat ini, ditengah himpitan kuliah dan tanggung jawabmu. kamu lelah untuk sesuatu diluar keinginanmu saat ini yang terus mengejarmu, mengingatkanmu bahwa kamu sangat dibutuhkan, mengingatkanmu bahwa kamu mampu lebih daripada masa yang lalu. dan mungkin kamu lelah berdebat dengan dirimu sendiri dan diriku tentang betapa layak dan tidak layaknya dirimu hadir dalam hal yang kamu enggankan itu.

aku mungkin bukan orang yang paling peduli dan menyayangimu, kamu dikelilingi orang-orang seperti itu. aku mungkin bukan orang yang paling mengerti dirimu, terutama sejak aku berhenti berusaha menunggumu melihatku. tapi aku lelah berusaha berhenti, dan sekali lagi aku sadar aku memang tak mampu untuk membuatmu memandangku seperti yang kamu ingingkan, namun aku bisa tetap menyimpan rasaku ini, menerima bahwa kamu memang yang tak mungkin tergantikan. dan dengan tanggung jawab yang ada padaku saat ini, aku ingin kamu menjadi bagiannya, bagian tanggung jawabku meski itu berarti menjadikanku orang jahat.

aku telah memutuskan, dengan sadar, aku akan membawamu kembali ke dalam bagian tanggung jawabku, terutama disaat ini semua adalah tanggung jawabku. aku akan membuatmu sadar bahwa kamu layak menjadi bagian di dalamnya meski kamu yakin sekali untuk pergi terutama di tengah keasyikanmu dengan tanggung jawab yang baru-baru ini kau jalani. aku akan membuatmu memberikan sedikit prioritas, bukan padaku, namun hal yang hendak kamu tinggalkan ini. 
karena aku yakin bahwa kamu mampu, kamu tidak pernah benar-benar memberi sedikit prioritas dan kini kamu hendak pergi karena kamu merasa tak layak. karena kamu mau, namun kamu terhalang rasa rendah diri yang sulit aku mengerti ada di dalam diri sekuat kamu. 

kamu yang katakan bahwa saat ini saat yang tepat untuk pergi karena kamu memiliki alasan nyata, berbeda dengan proses-proses masa sebelumnya dimana alasanmu tidak begitu berarti. dan aku minta maaf karena saat ini aku akan memperjuangkanmu di dalam bagian tanggung jawabku meski kamu begitu enggan, meski aku harus melewati masa-masa dingin denganmu. jujur aku pun tak tahu bahwa hal ini yang benar, namun aku ingin untuk sekali ini kamu benar-benar ada untuk melihat bahwa kegagalanmu selama ini bukan karena ketidakmampuanmu, namun kurangnya rasa percaya dirimu. dan meskipun aku berhasil membuatmu bertahan, aku tidak yakin itu karena aku. aku akan mengandalkan orang-orang yang kupercaya untuk mendorongmu, orang yang kamu bilang benar-benar menjadi mentormu. kecewa sedikit namun tak juga hilang karena menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar mampu membantumu, menjadi temanmu. jahat rasanya kini aku memohon-mohon dan memaksamu untuk lebih terlibat. dan lebih kecewa lagi karena aku sadar, kata-katamu dahulu untukku agar aku kuat tidaklah nyata, karena kamu sendiri tak mampu melawannya. namun lebih dari itu aku ingin kamu tahu bahwa ada orang yang selalu memperjuangkanmu, memikirkanmu, menganggapmu lebih dari sekedar ada. 

percakapanmu denganku kemarin di antara dua gelas teh susu ternama di jogja mengakhiri ketegangan di antara kita selama seminggu terakhir, dan memulai yang lain. mungkin keenggananmu melihatku muncul setelah hari kemarin, terlebih hari ini aku merasa kamu kecewa denganku yang memaksamu hadir meski kamu telah pamit. aku marah tentu saja padamu, membuang begitu banyak peluang, sama sepertiku, namun dalam hal yang aku dan kamu sama-sama ketahui bahwa kamu mampu.percakapan singkat di siang yang panas itu menyadarkanku bahwa aku merindukanmu, merindukan waktu dimana aku bisa berbincang denganmu, mendengarmu bercerita, menikmati kedamaikan meski hanya berada di dekatmu. kamu mungkin sadar mungkin juga tidak bahwa mendukungmu untuk semua yang kamu lakukan meski aku tak pernah berhenti khawatir. 

be safe for tommorow... your trip to another city till the end of the month
have fun, because i know that you enjoy your time with them and not with us

love you STArs
jumat, 26 agustus 2016 2:28 AM

Sabtu, 13 Februari 2016

VALENTINE DAY....

ga pernah ada valentine yang buruk, seumur hidup 21 hari valentine sama seperti hari biasa, hanya lebih banyak coklat bertebaran. 
and for these years, there are more musings. 
i feel peace, a peace that i need and fit me. although this backache is killing me (not that bad) but today is nice and it throws me back to a year ago. 
i never plan about valentine but last year is my best valentine i guess (still waiting for the better to put last year aside). for the first time i could give that day a meaning, meaning for myself mostly and may be also the day that turn me into something, as a rebel, as a kid, as a grown up individual, as a useless and purposeless person. i didn't regret it, even i enjoyed the change and the questions that popped up for full of this year. 
too desperate to feel sad and lost, and still don't have a reason to be happy, just a grateful of today and of the feeling
i don't want chocolate, i know exactly what i want for today but i also realize that there is 0% chance to make it happen, and me myself doesn't push forward to make the chance bigger, cause it's not right. i might feel the euphoria but i will loose my peace feeling and for now i choose the peace. too much euphoria could hurt more when it end. 

and there are still another musings. i hate to say but i feel i need help. o loose my sympathy to a person, a person who actually should get 100% of my sympathy and empathy. i loose it and i don't know how to find it back. but i want to find it back. I've seen my friends, they experienced worse, they don't have chance to fix it or enjoy the pleasure of having this person longer and i don't want to experience it first to make me appreciate it more. i wish by listening and understanding to my friends experiences, i will change, i will have more sympathy, i will be an easier person, i will try to match more, i will obey more. but the fact goes the other way. stubborn heads meet each other and sometimes just make it worse. more fight, more yell, more complain. 

while now, i am still looking for the answer about some questions. what i want for my life? who am i? what am i doing? what happen with me? can i die now? or soon? 

but it's my valentine day, a peace one. in my last two valentine, i get 2 information that the opposite of each other from one person. nice... wish you a long life
 

Kamis, 13 Maret 2014

PIKIRAN ANDA ITU LUAS.....

1 semester... 6 bulan lebih.... siapa sangka dalam waktu sesingkat itu ada banyak sekali yang mampu menggambarkan sebuah kehidupan nyata. welcome to the new world! hanya dengan memejamkan mata, dan aku tau, ia, yang duduk di seberang sana adalah orang baik, dengan senyum ramah, suara tegas dan teman setia yang seberapa banyak pun argumen yang ada di antara mereka, teman itu akan selalu berada di belakangnya.

1 bulan pertama, siapa sangka dengan apa yang bisa kucapai, faktor waktu yang singkat agaknya menjadi alasan utama namaku berada dalam daftar itu, daftar yang saat itu aku tak yakin untuk kembali berkiprah ke dalamnya. siapa aku? hanya orang yang membuang-buang talentanya dan tak pernah siap dengan perubahan yang ada di luar zona nyaman. namun disanalah, orang-orang yang tak ingin kukecewakan berada. sebuah tanggung jawab kuletakkan di atas kepalaku dan di dalam otakku. beban yang sengaja kuletakkan sebagai pengingat bahwa aku harus melakukan perubahan.
mereka hebat.... jauh di atas levelku, bahkan jika aku saat itu masih menjalani latihan rutinku. tempat itu adalah sebuah anak komunitas, dimana di tingkat teratas ada komunitas yang lebih besar, dengan persaingan yang seharusnya terbilang lebih ketat dan menantang. tak pernah kusentuh tingkat itu untuk sebulan itu. terlibat dalam anak komunitasnya saja aku sudah bersyukur. dan disanalah keberanian itu datang. salah satu tetua yang menjadi anggota komunitas atas memantapkan keyakinanku untuk mencoba.

yang pertama adalah yang terberat, berat karena ada banyak pertanyaan dan tempat kosong untuk diisi dalam benakku. tak masalah.

keraguan mulai muncul ketika kompetisi di tingkat anak komunitas usai dan aku mulai menjalani pelatihan rutin. anak komunitas dan komunitas atas. keduanya ada dibidang yang sama, menjadi dasar dan acuan setiap tindakan yang berusaha kulakukan. anak komunitas selalu punya cerita, tentu saja karena ia atau mereka orang yang pernah berkiprah di komunitas atas tampaknya tak puas dengan komunitas atas saat ini. aku merasa jijik saat tanda-tanda, gejala-gejala bahwa cerita itu benar mulai merebak. tidak sampai satu bulan aku berada di komunitas atas.

aku melewati tes itu. aku bertahan, dikeduanya. penilaian adil dan pertanyaan mulai berjamur di dalam diriku. cerita dari anak komunitas tampaknya lebih dari sekadar cerita. itu adalah kata-kata, perasaan dari orang yang gagal bertahan dalam komunitas atas, yang entah apa yang terjadi, pandangan para tetua yang pernah berkiprah itu telah begitu negatifnya, hingga tak menyempatkan cerita positif untuk diperdengarkan.

satu dua cerita, aku masih bisa memilahnya dan memastikan kebenarannya, atau sebetulnya kesalahannya melalui pertanyaan-pertanyaan tersirat di komunitas atas. aku berhasil melihat dari dua komunitas tempatku terlibat, aku berhasil menjauhkan cerita-cerita negatif itu yang hasilnya dapat tetap terlihat, aku bertahan di komunitas atas, karena aku mau dan aku bisa.

sedikit lebih lama, mungkin agak keterlaluan. bagaimana aku membuat kesalahan fatal. aku tak pernah mempertanyakan kebenaran setiap cerita yang terlontar di anak komunitas. aku tak pernah membela siapa pun. aku menjadi pendengar bisu yang langsung membuang cerita yang menurutku tentunya tak menyentuh kebenaran sedikit pun dan tercengan dengan setiap cerita yang ada kemungkinan terjadi namun tak pernah kusangka. seharusnya aku mampu membela sesuatu yang kuanggap benar. hanya aku yang mampu menilai dengan benar dan memang seharusnya hanya aku, karena aku mendapat asupan dari 2 komunitas, satu yang selalu penuh cerita (yang belakangan kuketahui tingkat kebohongannya sangat parah) dan satu lagi yang bahkan tak pernah membahas sedikitpun tentang anak komunitas, apalagi membahas negatifnya (padahal sebagian besar berada di anak komunitas yang sama, hanya mereka tak sempat untuk terlibat dengan rutin).

akibat yang fatal itu sungguh menggangguku. siapa sangka cerita-cerita yang merebak itu menjadi sumber trauma terbesar bagi anggota anak komunitas untuk maju ke tingkat komunitas atas. cerita-cerita itu, tak pernah ada yang membantah, membuat anggota-anggotanya memilih diam dan menutup diri dari dunia komunitas atas. aku terlambat.



satu semester lebih dan siapa sangka aku pun merasa tak tahan lagi. ini sudah termasuk pencemaran nama baik. maka keputusan memastikan cerita itu benar atau harus memasuki tingkat yang lebih bahaya. siapa sangka aku akan menjadi tukang adu, siapa sangka aku akan menjadi orang yang meberi alasan bagi komunitas atas untuk angkat bicara tentang anak komunitas.

seseorang, temanku, anggota anak komunitas yang tampaknya sudah merasa lelah sejak lama sebelum aku merasakan hal yang sama. dan sekarang namanya sedang buruk, entah siapa yang menyebabkannya. berpapasan dengan beberapa anggota anak komunitas dan semua menjadi dingin seolah tak ada perasaan kenal diantara mereka. dingin itu yang menjadi pertanyaan karena terlontar dari anggota-anggota yang bahkan bukan fokus masalah ini.
semua ini hanya berpusat pada beberapa orang dengan cerita-cerita negatif, yang entah bagaimana merebak. aku yang mengadukan segudang cerita tak mendapat imbas apapun / belum dari anak komunitas, tapi siapa yang tau? temanku ini tak menyulut api, aku.... tapi ia yang terbakar. hanya saja ia tak membiarkan api itu membakarnya. ia membiarkan dirinya meredam api itu dan dan menghadapi kobaran-kobaran api disekelilingnya dengan es tebal yang siap mencair kapan saja saat api itu siap untuk reda pula.


di keadaan yang serentan ini, semua tak ada yang mampu menekan. seberapa kuat keyakinanmu dan seberapa mampunya kamu mmelihat dari sisi yang ada. sebagian orang terjebak dengan pandangan anak komunitas yang membuat mereka salah menilai. tidak ada yang menyalahkan, hanya saja, cobalah melihat dari 2 sisi untuk masalah ini. kamu, anggota anak komunitas bukan orang yang kuanggap merintis ini semua, tapi kenapa kamu bersikap seolah-olah aku telah menusukmu dari belakang, yang berimbas ke temanku.

Senin, 30 April 2012

SAMPAI HARI INI....


Sampai hari ini aku selalu memikirkannya, bahagiamu bahagiaku, senyummu semangatku. Aku yang mengadakan semua ini, rasa, bayangan, angan. Tak ada derita, tak ada tangis karena memang semua ada untuk dijalani. Kenyataanlah yang membutakanku akan realita bahwa sebetulnya hanya ada aku disini.

Aku suka cara kita ngobrol
Aku suka cara kamu manggil aku
Aku suka cara aku manggil kamu
Aku suka kejadian setiap kita ketemu
Aku suka senyum kamu….

Selintas tidak pernah ada rasa sedih dan tawa bahagia. Semua datar, sama seperti usaha yang hanya berjalan melingkar, tak berawal, entah dimana ekornya. Hanya kesadaranku yang membawaku pada pandangan bahwa kamu masih ada. Memang hanya aku, yang berdiri sendiri dan terus menatapmu melangkah di bawah langit nan biru. Akulah yang menciptakan acuan akan sebuah kenangan, jejak tanpa bukti.

Salam sapa hangat itu yang mengingatkanku
Ulah unikmu yang menghiburku
Mata di atas pipi empuk yang memukau
Suaramu yang selalu terdengar bagai nyanyian
Meski aku hanya harus menikmati semuanya dari atas kepalamu….

Tersembunyi, segala usaha kugunakan untuk menyembunyikannya. Bukan aku, tapi rasa ini. Bayangan pudarnya wajahmu yang memaksaku untuk tetap menyimpannya, bahagia dengan langkah nol yang kuambil, tanpa perlu mengorbankan percayamu, perasaanku, gilaku. Aku memang jalan di tempat, hanya berhitung satu dan dua lalu kembali ke satu. Namun dari tempat ini, aku berdiri, berjalan, berlari, tanpa pernah lepas memandangmu.

Eratnya genggaman tanganmu menahanku tetap berpijak
Gumaman sajak samar mengalihkan usahaku untuk berpaling
Terpotong jarak ribuan kaki, tenggelamkan segenap kisah tak terawali
Salih hati ini berlabuh pada barak-barak keprihatinan penuh senyum

Salahkah jika aku masih menyimpanmu? Gambaran wajahmu yang menentramkan, bersama dengan suara tak terlupakan. Tak ada kisah yang bisa kubagi, tak ada kata yang bisa menggambarkan, semua usaha yang kubangun tetap nol. Semua pertanyaan yang muncul enggan kujawab, bukan karena aku lupa padamu, atau hilang sudah jejak-jejak rasa ini padamu, namun karena waktu mengkikis kisah yang bisa kubagi. Berapa lama kita bertemu, waktu itu harus kutabung sepenuhnya, kemudian kupakai sedikit demi sedikit sebagai sikap berserahku.

Tak ada waktu yang akan menyadarkanmu
Tak ada lagu yang kan membangunkanmu
Hanya kalbu yang akan menemanimu, bukan sebagai gambar sendu

Semua proses ini hanya aku yang membuatnya, dan aku terbutakan. Kuulangi berkali-kali, sebagai sebuah pelarian akan keputusasaan. Percobaan bodoh untuk satu kasus yang sepihak. Aku tak perlu dia hadir disini, aku hanya ingin melihatnya, menyimpan lebih banyak gambar dirinya, bukan kenangan karena aku takkan pernah ada dalam daftar memorinya. Akulah yang akan menyimpannya.

Tawamu ada dalam kotakku
Senyummu kunjungan terbesar
Ulahmu simpanan termahal
Suaramu singkap hati tertulus
Semuanya akan ada dalam kotakku, terisi penuh setiap melihatmu,
Habis sedikit demi sedikit oleh waktu yang kuyakini takkan biarkan kotakku kosong

Sampai hari ini……..


Senin, 30 April 2012
my room, 22.30